Selasa, 08 Mei 2018

Keamanan Sistem Informasi



ANALISIS SITUASI SISTEM INFORMASI KESEHATAN

A.      PENGERTIAN
           Analisis SWOT yaitu analisis antarkomponen dengan memanfaatkan deskripsi SWOT setiap komponen untuk merumuskan strategi pemecahan masalah, serta pengembangan dan atau perbaikan mutu sistem informasi kesehatan secara berkelanjutan.
SWOT merupakan akronim dari Strength (kekuatan/kondisi positif), Weakness (kelemahan internal sistem), Opportunity (kesempatan/ peluang sistem), dan  Threats (ancaman/ rintangan/ tantangan dari lingkungan eksternal sistem).
1.    Analisis situasi sistem informasi kesehatan dilakukan dalam rangka pengembangan sistem informasi kesehatan.
2.    Sistem informasi kesehatan bukanlah suatu sistem yang berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian fungsional dari sistem kesehatan yang dibangun dari himpunan atau jaringan sistem-sistem informasi dari level yang paling bawah.
C.       STRENGTH ( KEKUATAN
1.    Indonesia telah memiliki beberapa legislasi terkait SIK (UU Kesehatan, SKN, Kebijakan dan strategi pengembangan SIKNAS dan SIKDA).
2.    Tenaga pengelola SIK sudah mulai tersedia pada tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota.
3.    Infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi tersedia di semua Provinsi dan hampir seluruh Kabupaten/kota
4.    Indikator kesehatan telah tersedia.
5.    Telah ada sistem penggumpulan data secara rutin yang bersumber dari fasilitas kesehatan pemerintah dan masyarakat.
6.    Telah ada inisiatif pengembangan SIK oleh beberapa fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas dan Dinas Kesehatan, untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
7.    Diseminasi data dan informasi telah dilakukan, contohnya hampir semua Provinsi dan Kabupaten/kota dan Pusat menerbitkan profil kesehatan

D.      WEAKNESSES ( KELEMAHAN
1.    SIK masih terfragmentasi (belum terintegrasi) dan dikelola berbagai pihak sehingga terdapat “pulau-pulau informasi”.
2.    Legislasi yang ada belum kuat untuk mendukung integrasi SIK.
3.    Tidak terdapatnya penanggung jawab khusus SIK (petugas SIK umumnya masih rangkap jabatan).
4.    Tenaga Pengelola SIK umumnya masih kurang diakui perannya, pengembangan karir tidak jelas dan belum ada jabatan fungsionalnya.
5.    Terbatasnya anggaran untuk teknologi informasi dan komunikasi khususnya untuk pemeliharaan.
6.    Indikator yang digunakan sering kurang menggambarkan “subjek” yang diwakili.
7.    Belum terbangunnya mekanisme aliran data kesehatan baik lintas program (Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota) maupun lintas sektor.
8.    Masih lemahnya mekanisme monitoring, evaluasi dan audit SIK.
9.    Kualitas data masih bermasalah (tidak akurat, lengkap, tepat waktu)
10.     Penggunaan data/informasi oleh pengambil keputusan dan masyarakat masih sangat        rendah
E.       OPPORTUNITIES ( PELUANG )
1.        Kesadaran akan permasalahan kondisi SIK dan manfaat  eHealth mulai meningkat pada semua pemangku kepentingan terutama pada tingkat manajemen Kementerian Kesehatan.
2.        Telah ada peraturan perundang-undangan terkait informasi dan TIK.
3.        Terdapatnya kebijakan perampingan struktur dan pengkayaan fungsi, memberikan peluang dalam pengembangan jabatan fungsional pengelolaan SIK.
4.        Terdapat jenjang pendidikan informasi kesehatan yang bervariasi dari diploma hingga sarjana di perguruan tinggi.
5.        Para donor menitik beratkan program pengembangan SIK.
6.        Registrasi vital telah dikembangkan oleh Kementerian Dalam Negeri dan telah mulai dengan proyek percobaan di beberapa Provinsi.
7.        Adanya inisiatif penggunaan nomor identitas tunggal penduduk oleh Kementerian Dalam Negeri yang merupakan peluang untuk memudahkan pengelolaan data sehingga menjadi berkualitas.
8.        Kebutuhan akan data berbasis bukti meningkat khususnya untuk anggaran (perencanaan) yang berbasis kinerja.
F.        THREATHS ( ANCAMAN )
1.        Dengan Otonomi daerah, terkadang pengembangan SIK tidak menjadi prioritas.
2.         Rotasi tenaga SIK di fasilitas kesehatan Pemerintah tanpa perencanaan dan koordinasi      dengan Dinas Kesehatan telah menyebabkan hambatan dalam pengelolaan SIK.
3.        Sebagian program kesehatan yang didanai oleh donor mengembangkan sistem informasi sendiri tanpa dikonsultasikan atau dikoordinasikan sebelumnya dengan Pusat Data dan Informasi dan pemangku kepentingannya.
4.        Komputerisasi data kesehatan terutama menuju data individu (disaggregate) meningkatkan risiko terhadap keamanan dan kerahasiaan sistem TIK.
5.        Kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam dimana infrastruktur masih sangat lemah di daerah terpencil sehingga menjadi hambatan modernisasi SIK.
G.      KEGUNAAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
            Supaya informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi dapat berguna bagi manajemen, maka analisa sistem harus mengetahui kebutuhan-kebutuhan informasi yang dibutuhkannya, yaitu dengan mengetahui kegiatan-kegiatan untuk masing-masing tingkat (level) manajemen dan tipe keputusan yang diambilnya.
Ø  Beberapa kegunaan/fungsi sistem informasi sebagai berikut :
1)      Meningkatkan aksesibilitas data yang tersaji secara tepat waktu dan akurat bagi para pemakai, tanpa mengharuskan adanya perantara sistem informasi.
2)      Menjamin tersedianya kualitas dan keterampilan dalam memanfaatkan sistem informasi secara kritis.
3)      Mengembangkan proses perencanaan yang efektif.
4)      Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan akan keterampilan pendukung sistem informasi.
5)      Menetapkan investasi yang akan diarahkan pada sistem informasi.
6)      Mengantisipasi dan memahami konsekuensi-konsekuensi ekonomis dari sistem informasi dan teknologi baru.
H.      KELEBIHAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
1.    Meningkatkan efisiensi operasional.
2.    Memperkenalkan inovasi dalam bisnis.
3.    Membangun sumber-sumber informasi strategis.
I.         KEKURANGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
1.    Dapat memberikan dampak bagi lingkungan sosial seperti pengurangan tenaga kerja, sehingga dapat menambah angka pengangguran.
2.    Selain itu dengan adanya SIM tersebut membuat ketergantungan manusia terhadap SIM tersebut, sehingga mengesampingkan rasionalitas manusia itu sendiri.
3.     Perubahan dan perkembangan dalam teknologi informasi terjadi secara cepat dan belum tentu perusahaan mampu melakukan adaptasi dengan cepat sehingga ada peluang teknologi yang digunakan kurang canggih (tidak up to date)
4.    Kurangnya tenaga ahli di bidang sistem informasi dapat menyebabkan kesalahan persepsi dalam pengembangan sistem dan kesalahan/resiko yang terjadi menjadi tanggung jawab perusahaan
5.    Dengan adanya sistem informasi, sebuah perusahaan mengharapkan suatu sistem yang dapat bekerja secara cepat dan akurat sehingga produktivitas kerja di perusahaan lebih meningkat.
         Namun karena beberapa faktor tertentu, terkadang malah perusahaan mengalami kegagalan














ANALISIS SITUASI SISTEM INFORMASI KESEHATAN



ANALISIS SITUASI SISTEM INFORMASI KESEHATAN

A.      PENGERTIAN
           Analisis SWOT yaitu analisis antarkomponen dengan memanfaatkan deskripsi SWOT setiap komponen untuk merumuskan strategi pemecahan masalah, serta pengembangan dan atau perbaikan mutu sistem informasi kesehatan secara berkelanjutan.
SWOT merupakan akronim dari Strength (kekuatan/kondisi positif), Weakness (kelemahan internal sistem), Opportunity (kesempatan/ peluang sistem), dan  Threats (ancaman/ rintangan/ tantangan dari lingkungan eksternal sistem).
1.    Analisis situasi sistem informasi kesehatan dilakukan dalam rangka pengembangan sistem informasi kesehatan.
2.    Sistem informasi kesehatan bukanlah suatu sistem yang berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian fungsional dari sistem kesehatan yang dibangun dari himpunan atau jaringan sistem-sistem informasi dari level yang paling bawah.
C.       STRENGTH ( KEKUATAN
1.    Indonesia telah memiliki beberapa legislasi terkait SIK (UU Kesehatan, SKN, Kebijakan dan strategi pengembangan SIKNAS dan SIKDA).
2.    Tenaga pengelola SIK sudah mulai tersedia pada tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota.
3.    Infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi tersedia di semua Provinsi dan hampir seluruh Kabupaten/kota
4.    Indikator kesehatan telah tersedia.
5.    Telah ada sistem penggumpulan data secara rutin yang bersumber dari fasilitas kesehatan pemerintah dan masyarakat.
6.    Telah ada inisiatif pengembangan SIK oleh beberapa fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas dan Dinas Kesehatan, untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
7.    Diseminasi data dan informasi telah dilakukan, contohnya hampir semua Provinsi dan Kabupaten/kota dan Pusat menerbitkan profil kesehatan

D.      WEAKNESSES ( KELEMAHAN
1.    SIK masih terfragmentasi (belum terintegrasi) dan dikelola berbagai pihak sehingga terdapat “pulau-pulau informasi”.
2.    Legislasi yang ada belum kuat untuk mendukung integrasi SIK.
3.    Tidak terdapatnya penanggung jawab khusus SIK (petugas SIK umumnya masih rangkap jabatan).
4.    Tenaga Pengelola SIK umumnya masih kurang diakui perannya, pengembangan karir tidak jelas dan belum ada jabatan fungsionalnya.
5.    Terbatasnya anggaran untuk teknologi informasi dan komunikasi khususnya untuk pemeliharaan.
6.    Indikator yang digunakan sering kurang menggambarkan “subjek” yang diwakili.
7.    Belum terbangunnya mekanisme aliran data kesehatan baik lintas program (Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota) maupun lintas sektor.
8.    Masih lemahnya mekanisme monitoring, evaluasi dan audit SIK.
9.    Kualitas data masih bermasalah (tidak akurat, lengkap, tepat waktu)
10.     Penggunaan data/informasi oleh pengambil keputusan dan masyarakat masih sangat        rendah
E.       OPPORTUNITIES ( PELUANG )
1.        Kesadaran akan permasalahan kondisi SIK dan manfaat  eHealth mulai meningkat pada semua pemangku kepentingan terutama pada tingkat manajemen Kementerian Kesehatan.
2.        Telah ada peraturan perundang-undangan terkait informasi dan TIK.
3.        Terdapatnya kebijakan perampingan struktur dan pengkayaan fungsi, memberikan peluang dalam pengembangan jabatan fungsional pengelolaan SIK.
4.        Terdapat jenjang pendidikan informasi kesehatan yang bervariasi dari diploma hingga sarjana di perguruan tinggi.
5.        Para donor menitik beratkan program pengembangan SIK.
6.        Registrasi vital telah dikembangkan oleh Kementerian Dalam Negeri dan telah mulai dengan proyek percobaan di beberapa Provinsi.
7.        Adanya inisiatif penggunaan nomor identitas tunggal penduduk oleh Kementerian Dalam Negeri yang merupakan peluang untuk memudahkan pengelolaan data sehingga menjadi berkualitas.
8.        Kebutuhan akan data berbasis bukti meningkat khususnya untuk anggaran (perencanaan) yang berbasis kinerja.
F.        THREATHS ( ANCAMAN )
1.        Dengan Otonomi daerah, terkadang pengembangan SIK tidak menjadi prioritas.
2.         Rotasi tenaga SIK di fasilitas kesehatan Pemerintah tanpa perencanaan dan koordinasi      dengan Dinas Kesehatan telah menyebabkan hambatan dalam pengelolaan SIK.
3.        Sebagian program kesehatan yang didanai oleh donor mengembangkan sistem informasi sendiri tanpa dikonsultasikan atau dikoordinasikan sebelumnya dengan Pusat Data dan Informasi dan pemangku kepentingannya.
4.        Komputerisasi data kesehatan terutama menuju data individu (disaggregate) meningkatkan risiko terhadap keamanan dan kerahasiaan sistem TIK.
5.        Kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam dimana infrastruktur masih sangat lemah di daerah terpencil sehingga menjadi hambatan modernisasi SIK.
G.      KEGUNAAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
            Supaya informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi dapat berguna bagi manajemen, maka analisa sistem harus mengetahui kebutuhan-kebutuhan informasi yang dibutuhkannya, yaitu dengan mengetahui kegiatan-kegiatan untuk masing-masing tingkat (level) manajemen dan tipe keputusan yang diambilnya.
Ø  Beberapa kegunaan/fungsi sistem informasi sebagai berikut :
1)      Meningkatkan aksesibilitas data yang tersaji secara tepat waktu dan akurat bagi para pemakai, tanpa mengharuskan adanya perantara sistem informasi.
2)      Menjamin tersedianya kualitas dan keterampilan dalam memanfaatkan sistem informasi secara kritis.
3)      Mengembangkan proses perencanaan yang efektif.
4)      Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan akan keterampilan pendukung sistem informasi.
5)      Menetapkan investasi yang akan diarahkan pada sistem informasi.
6)      Mengantisipasi dan memahami konsekuensi-konsekuensi ekonomis dari sistem informasi dan teknologi baru.
H.      KELEBIHAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
1.    Meningkatkan efisiensi operasional.
2.    Memperkenalkan inovasi dalam bisnis.
3.    Membangun sumber-sumber informasi strategis.
I.         KEKURANGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
1.    Dapat memberikan dampak bagi lingkungan sosial seperti pengurangan tenaga kerja, sehingga dapat menambah angka pengangguran.
2.    Selain itu dengan adanya SIM tersebut membuat ketergantungan manusia terhadap SIM tersebut, sehingga mengesampingkan rasionalitas manusia itu sendiri.
3.     Perubahan dan perkembangan dalam teknologi informasi terjadi secara cepat dan belum tentu perusahaan mampu melakukan adaptasi dengan cepat sehingga ada peluang teknologi yang digunakan kurang canggih (tidak up to date)
4.    Kurangnya tenaga ahli di bidang sistem informasi dapat menyebabkan kesalahan persepsi dalam pengembangan sistem dan kesalahan/resiko yang terjadi menjadi tanggung jawab perusahaan
5.    Dengan adanya sistem informasi, sebuah perusahaan mengharapkan suatu sistem yang dapat bekerja secara cepat dan akurat sehingga produktivitas kerja di perusahaan lebih meningkat.
         Namun karena beberapa faktor tertentu, terkadang malah perusahaan mengalami kegagalan